
- Pendahuluan
Indonesia masih menghadapi beban Tuberkulosis (TBC) peringkat kedua tertinggi di dunia dengan estimasi 1.090.000 kasus TBC, dan angka kematian 125.000 (Sumber : Global Tuberculosis Report 2024). Namun, besarnya beban tersebut belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat. Dalam percakapan sehari-hari, tidak sedikit orang yang terkejut ketika mengetahui posisi Indonesia dalam beban global TBC, bahkan merespons dengan ketidakpercayaan. Reaksi ini mencerminkan adanya jarak antara data epidemiologis dan kesadaran publik.
Ketidaktahuan tersebut bukan karena masyarakat tidak peduli, melainkan karena informasi tentang TBC belum tersosialisasi secara luas dan merata seperti halnya COVID-19. TBC kerap dipersepsikan sebagai penyakit yang jauh dan jarang terjadi, padahal penularannya justru paling dekat, terjadi di dalam rumah, di antara anggota keluarga, dan orang-orang yang paling sering berinteraksi sehari-hari. Kondisi ini menjadikan keluarga sebagai titik krusial dalam upaya pencegahan dan pengendalian TBC.
Bagi para penggiat TBC dan pemangku kepentingan terkait, tingginya beban kasus ini menjadi perhatian serius. Dalam kerangka program nasional, upaya penemuan kasus secara aktif (active case finding) serta pencegahan melalui Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) diposisikan sebagai strategi utama untuk memutus mata rantai penularan. Salah satu instrumen penting dalam strategi tersebut adalah investigasi kontak berbasis komunitas, yang menempatkan yang menempatkan masyarakat sebagai aktor kunci dalam pemutusan rantai penularan.
2. Latar Belakang dan Tantangan Program
Investigasi kontak dirancang sebagai pendekatan untuk mendekatkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan TBC sekaligus menjembatani data program dengan realitas sosial di tingkat komunitas. Pendekatan ini dilakukan melalui kunjungan rumah untuk melakukan skrining terhadap kontak serumah pasien TBC, mendorong pemeriksaan dini, serta memastikan akses terhadap pengobatan TBC aktif maupun Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).
Pelaksanaan investigasi kontak dilakukan oleh kader komunitas yang dikelola oleh Civil Society Organization (CSO) di kabupaten/kota wilayah intervensi, bekerja sama dengan fasilitas pelayanan kesehatan setempat. Secara kebijakan, pendekatan ini memiliki landasan yang kuat melalui Undang-Undang Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis, yang menegaskan peran serta masyarakat dalam pencegahan, penemuan kasus, dan pengendalian TBC. Keterlibatan masyarakat juga sejalan dengan nilai budaya lokal seperti gotong royong, saling menjaga, dan melindungi.
Namun, dalam praktiknya, implementasi investigasi kontak menghadapi berbagai tantangan yang kompleks. Dari sisi masyarakat, penolakan terhadap kunjungan kader masih terjadi. Hal ini dipengaruhi oleh rendahnya pemahaman tentang TBC, ketidaktahuan terhadap peran kader komunitas, serta keraguan terhadap diagnosis TBC, termasuk perasaan “tidak sakit” atau belum menerima kondisi kesehatannya. Meskipun staf program dan MEL di tingkat kabupaten/kota telah berkoordinasi dengan fasilitas layanan kesehatan untuk menyampaikan adanya tindak lanjut kunjungan rumah, dalam praktiknya kehadiran kader masih kerap dianggap mendadak dan menimbulkan kecurigaan.
Tantangan tersebut semakin kompleks ketika bertemu dengan adanya stigma sosial terhadap TBC. Penyakit ini masih sering dikaitkan dengan aib, kemiskinan, atau kebersihan diri dan lingkungan. Tidak jarang keluarga pasien meminta agar kunjungan kader dilakukan secara tertutup agar tidak diketahui oleh tetangga. Dalam situasi ini, investigasi kontak tidak hanya menjadi intervensi kesehatan masyarakat, tetapi juga interaksi sosial yang sangat sensitif, yang menuntut pendekatan komunikasi yang empatik dan kontekstual.
Dari sisi pelaksana, CSO juga menghadapi tantangan dalam pengelolaan kader, mulai dari proses rekrutmen, retensi, tingkat keaktifan, hingga pengayaan kapasitas kader agar mampu menjalankan peran secara berkualitas. Kader dalam program TBC berperan sebagai relawan dengan skema pemberian reward berbasis aktivitas. Jumlah kader terbatas dan tingkat keaktifan tidak selalu konsisten, terutama di wilayah tertentu di Riau di mana skema insentif belum cukup menarik untuk menjaga motivasi. Di sisi lain, CSO tetap dihadapkan pada tuntutan pencapaian target dan indikator program yang terukur. Tantangan tersebut diperberat oleh keterbatasan anggaran untuk penguatan kapasitas kader. Pelatihan kader umumnya hanya dianggarkan satu kali dalam setahun, dan pada tahun 2026 bahkan tidak lagi tersedia alokasi pelatihan kader.
Secara konseptual, investigasi kontak berangkat dari logika epidemiologis bahwa penularan TBC paling sering terjadi di lingkungan terdekat pasien, terutama di dalam rumah. Dalam praktiknya, pendekatan ini menjadi ruang temu antara kebutuhan sistem kesehatan akan data seperti jumlah kontak serumah, terduga, temuan kasus, dan capaian TPT dengan realitas sosial yang melatarbelakangi angka-angka tersebut.
Melalui kunjungan rumah dan interaksi langsung dengan keluarga pasien, kader tidak hanya melakukan skrining, tetapi juga memahami konteks sosial yang memengaruhi penerimaan layanan, termasuk alasan penolakan pemeriksaan, ketakutan terhadap stigma, keterbatasan ekonomi, dan pengalaman masyarakat dalam mengakses layanan kesehatan. Dalam konteks ini, data tidak berdiri sebagai angka semata, melainkan sebagai refleksi hambatan, peluang, dan kebutuhan nyata di tingkat komunitas.
Dengan demikian, investigasi kontak berfungsi sebagai mekanisme koreksi dan penyesuaian strategi program yang menghubungkan target dan indikator dengan realitas lapangan, serta memastikan bahwa respons program tidak hanya tepat secara teknis, tetapi juga relevan dan dapat diterima secara sosial.
3. Deskripsi Intervensi
Pada dasarnya, investigasi kontak TBC merupakan strategi yang ideal untuk memutus mata rantai penularan, dengan sejumlah prasyarat seperti ketersediaan data pasien yang lengkap, jumlah kader yang mencukupi dan memiliki kompetensi memadai, penerimaan masyarakat yang baik, serta sistem layanan kesehatan yang siap dan responsif. Namun dalam praktiknya, kondisi ideal tersebut jarang hadir secara bersamaan.
Di Provinsi Riau, peningkatan temuan kasus TBC menunjukkan bahwa penyakit ini bergerak lebih cepat dibandingkan pemenuhan prasyarat dan kesiapan sistem. Pada Semester I tahun 2025 tercatat sebanyak 6.867 kasus TBC, dan angka ini meningkat pada Semester II tahun 2025 menjadi 7.043 kasus (Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Semester I dan Semester II Tahun 2025). Data tersebut menegaskan bahwa program tidak memiliki ruang untuk menunggu kesiapan yang sempurna sebelum bertindak. Namun dibandingkan dengan estimasi temuan ini masih jauh estimasi kasus TBC Riau 2025 dalam 1 semester sebanyak 12.672 kasus. Berarti masih jauh PR penemuan aksus di Riau.
Berangkat dari kondisi tersebut, intervensi investigasi kontak dikembangkan bukan untuk memenuhi seluruh asumsi secara ideal, melainkan untuk mengelola keterbatasan secara strategis, agar kuantitas dan kualitas pelaksanaan investigasi kontak tetap dapat dijaga.
Pendekatan pelaksanaan investigasi kontak perlu dikembangkan agar mampu berjalan di tengah keterbatasan tersebut. PKBI Riau sebagai Sub Recipient (SR) komunitas yang mengelola program di sembilan kabupaten/kota di Provinsi Riau mencoba mencari dan menguji bentuk pelaksanaan investigasi kontak yang dapat memberikan dampak terhadap cakupan dan kualitas, melalui pendekatan gabungan antara mobilisasi kader yang terstruktur dan community organizing berbasis relasi sosial, yang diperkuat dengan monitoring berjenjang intensif.
Mobilisasi digunakan sebagai kerangka kerja operasional untuk menjaga ritme kerja, fokus kegiatan, dan ketercapaian target, sementara community organizing berperan memastikan penerimaan masyarakat, membangun kepercayaan, serta menjaga keberlanjutan keterlibatan kader. Investigasi kontak tidak dapat berjalan efektif apabila hanya mengandalkan salah satu pendekatan tersebut.
Mobilisasi, community organizing, dan monitoring berjenjang merupakan tiga komponen yang saling melengkapi dalam pelaksanaan investigasi kontak. Mobilisasi menggerakkan ritme kerja, Community Organizing membangun penerimaan sosial, dan monitoring berjenjang memastikan kualitas serta kesinambungan pelaksanaan di setiap tingkatan. Ruang lingkup pendekatan dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel. Ruang Lingkup Mobilisasi, Community Organizing, dan Monitoring Berjenjang dalam Investigasi Kontak
| Aspek Kunci | Mobilisasi | Community Organizing | Monitoring Berjenjang |
| Peran Inti | Mengatur ritme dan fokus kerja | Membangun penerimaan dan kepercayaan | Menjaga kualitas dan konsistensi |
| Fokus Utama | Target, jadwal, progres | Relasi sosial dan komunikasi empatik | Verifikasi, umpan balik, perbaikan |
| Pertanyaan Kunci | Ke mana kader bergerak? Kapan? Berapa targetnya? | Bagaimana kader masuk? Dengan bahasa apa? Bagaimana membangun penerimaan? | Apakah kegiatan berjalan sesuai rencana? Di mana hambatan terjadi? Apa tindak lanjutnya? |
| Aktor Utama | Kader dan Koordinator Kader | Kader dan keluarga | Koorkad – PMEL Kab/Kota – SR |
| Kontribusi pada IK | Menjamin IK berjalan dan tidak terhenti | Menjamin IK diterima dan berkelanjutan | Menjamin IK berkualitas dan akuntabel |
| Risiko tanpa gabungan pendekatan ini | Kaku, kejar target | Lambat, sulit terukur | Administratif semata |
Praktik Teknis di Lapangan: Bagaimana Pendekatan Ini Dijalankan
Mobilisasi kader dijalankan sebagai kerangka kerja operasional investigasi kontak. Praktik ini mencakup pembagian target pasien indeks secara jelas, penjadwalan kunjungan rumah, pelaporan kegiatan, serta pengawalan capaian secara rutin. Melalui mobilisasi, kader memahami berapa banyak pasien indeks yang harus ditindaklanjuti setiap minggu, ke mana harus bergerak, siapa yang menjadi prioritas, serta bagaimana progres kerja dinilai. Pendekatan ini menjaga fokus kerja kader dan mencegah pelaksanaan investigasi kontak berjalan tanpa arah.
Namun mobilisasi saja tidak cukup. Dalam praktiknya, pendekatan ini diperkuat dengan community organizing sebagai cara kerja sosial di lapangan. Community organizing menentukan bagaimana kader memasuki rumah warga, bahasa dan pendekatan komunikasi yang digunakan, cara melakukan skrining, serta bagaimana penolakan dan stigma dikelola secara empatik. Melalui relasi sosial yang telah ada di komunitas, kader diposisikan bukan sebagai pelaksana program dari luar, melainkan sebagai bagian dari upaya bersama untuk melindungi keluarga dan lingkungan.
Sebagai ilustrasi praktik di lapangan, dalam satu kunjungan investigasi kontak, kader menerima target pasien indeks yang telah dipetakan melalui mekanisme mobilisasi. Kunjungan dilakukan sesuai jadwal, namun keluarga menunjukkan resistensi awal karena kekhawatiran terhadap stigma lingkungan sekitar. Dalam situasi ini, kader tidak langsung melakukan skrining, melainkan memulai dialog dengan menyesuaikan bahasa komunikasi dan menjelaskan tujuan kunjungan sebagai bentuk dukungan bagi keluarga. Pendekatan ini membuka ruang penerimaan, sehingga skrining dapat dilakukan dan rujukan pemeriksaan akhirnya disepakati.
Pada situasi lain, kader mendampingi keluarga pasien indeks yang memiliki beberapa kontak serumah tanpa gejala, yang pada awalnya menolak rujukan pemeriksaan karena merasa sehat. Melalui percakapan yang dilakukan secara bertahap dan pendekatan kekeluargaan, kader menjelaskan risiko penularan di dalam rumah serta manfaat terapi pencegahan sebagai upaya melindungi anggota keluarga lainnya. Pendekatan ini mendorong kontak tanpa gejala untuk bersedia mengakses layanan pemeriksaan dan menerima terapi pencegahan TBC.
Secara sederhana, mobilisasi menentukan ke mana kader pergi, sementara community organizing menentukan bagaimana kader diterima. Pendekatan gabungan ini memungkinkan investigasi kontak tetap berjalan dengan tempo yang terjaga tanpa mengorbankan kualitas interaksi sosial, sekaligus membantu mencegah kelelahan kader dan menjaga motivasi mereka dalam jangka panjang.
Asumsi Kerja yang Dikelola dalam Intervensi
Dalam pelaksanaannya, intervensi ini mengelola sejumlah asumsi kerja utama, antara lain ketersediaan alamat pasien indeks, kecukupan jumlah dan kapasitas kader, penerimaan masyarakat, serta dukungan sistem layanan kesehatan. Asumsi-asumsi tersebut tidak diposisikan sebagai prasyarat mutlak, melainkan sebagai faktor yang terus diperbaiki melalui penguatan koordinasi dengan fasilitas layanan kesehatan, pengelolaan komunitas kader, serta pendekatan komunikasi yang adaptif.
Dengan cara ini, investigasi kontak tidak dijalankan sebagai strategi yang sempurna di atas kertas, melainkan sebagai praktik yang terus belajar, menyesuaikan diri, dan bergerak di tengah keterbatasan nyata di lapangan.
4. Dinamika Pelaksanaan dan Penyesuaian Strategi
Dalam pelaksanaannya, pendekatan persuasif dan empatik yang menjadi ruh community organizing kerap berbenturan dengan tuntutan capaian program yang menekankan hasil dalam waktu relatif singkat. Proses membangun kepercayaan dengan keluarga membutuhkan waktu, dialog berulang, dan sensitivitas sosial, sementara sistem program sering kali menuntut pencapaian angka dalam periode tertentu. Pada titik inilah muncul dilema nyata di lapangan: antara menjaga relasi dengan keluarga dan memastikan ritme mobilisasi tetap berjalan untuk memenuhi target program.
Dalam kondisi tertentu, tekanan capaian tersebut mendorong mobilisasi dijalankan secara lebih kaku dan berorientasi hasil. Situasi ini terkadang memunculkan praktik pendekatan yang cenderung koersif, seperti penekanan atau bentuk persuasi yang berlebihan agar keluarga bersedia diperiksa. Pendekatan ini tidak lahir dari niat buruk, melainkan dari rasa tanggung jawab kader, keterbatasan waktu, serta kekhawatiran terhadap risiko penularan yang terus berlangsung. Namun demikian, ketika mobilisasi tidak diimbangi dengan pendekatan community organizing, praktik semacam ini justru berpotensi memperkuat rasa takut, kecurigaan, dan resistensi masyarakat.
Menyadari risiko tersebut, strategi pelaksanaan investigasi kontak kemudian disesuaikan dengan menata ulang relasi antara mobilisasi dan community organizing. Mobilisasi tetap dipertahankan sebagai kerangka kerja untuk menjaga fokus, ritme, dan pengawalan capaian, namun cara kerjanya diperhalus melalui pendekatan community organizing yang lebih konsisten. Kunjungan kader tidak lagi semata diposisikan sebagai upaya memenuhi target, melainkan sebagai proses membangun penerimaan dan dialog yang berkelanjutan dengan keluarga.
Penyesuaian ini turut mendorong perubahan cara pandang dalam pengelolaan kader. Retensi kader tidak lagi dimaknai sebagai keharusan keterlibatan jangka panjang yang seragam, melainkan sebagai siklus keterlibatan yang fleksibel dan adaptif. Mobilisasi digunakan untuk mengidentifikasi kader yang siap bergerak pada periode dan wilayah prioritas tertentu, sementara community organizing membantu menempatkan kader pada peran yang paling sesuai dengan kapasitas relasi sosial dan keterampilan komunikasinya. Fokus strategi bergeser dari sekadar menambah jumlah kader menuju pengelolaan sumber daya yang ada secara lebih strategis, dengan memetakan kader yang benar-benar siap bekerja dan menjadikan aktivitas ini sebagai bagian dari sumber penghidupan mereka.
Pendekatan gabungan ini memungkinkan investigasi kontak tetap berlangsung di tengah keterbatasan tanpa kehilangan makna sosialnya. Penyesuaian strategi tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga keseimbangan antara tuntutan capaian program dan kebutuhan membangun kepercayaan masyarakat. Dinamika inilah yang kemudian memengaruhi bentuk dampak yang dihasilkan, baik dari sisi capaian program maupun perubahan sikap dan penerimaan masyarakat, yang akan diuraikan pada bagian berikutnya.
5. Hasil dan Dampak
5.1 Dampak Mobilisasi
Penerapan strategi mobilisasi yang dilakukan secara lebih terstruktur sejak Semester II tahun 2025 berdampak langsung pada peningkatan keteraturan dan ritme kerja kader. Mobilisasi memungkinkan penjadwalan investigasi kontak yang lebih jelas, pengawalan tindak lanjut pasien indeks, serta penyelesaian investigasi kontak yang lebih terarah. Dampak ini tercermin dari meningkatnya capaian investigasi kontak, khususnya pada Semester II, dengan puncak capaian pada Kuartal IV tahun 2025.
Dari sisi kuantitatif, mobilisasi berkontribusi pada terjaganya cakupan investigasi kontak terhadap pasien indeks dan kontak serumah secara konsisten setiap bulan. Hal ini menunjukkan bahwa mobilisasi berfungsi efektif sebagai kerangka kerja operasional yang menjaga kesinambungan aktivitas lapangan dan memastikan bahwa pasien indeks tidak tertinggal tanpa tindak lanjut.

Pada bulan Desember, terjadi lonjakan jumlah pasien indeks yang dilakukan investigasi kontak melebihi jumlah indeks pada bulan berjalan. Kondisi ini disebabkan oleh upaya penyelesaian tindak lanjut terhadap pasien indeks dari bulan-bulan sebelumnya yang belum sepenuhnya terinvestigasi.
5.2 Dampak Community Organizing
Dampak community organizing lebih terlihat pada aspek kualitas penerimaan masyarakat terhadap layanan TBC. Proporsi kontak serumah (KS) yang berhasil mengakses pemeriksaan berada pada kisaran sekitar 51% hingga lebih dari 85% dan menunjukkan fluktuasi antarbulan. Variasi ini mencerminkan dinamika sosial di tingkat rumah tangga, termasuk perbedaan tingkat kepercayaan, pemahaman, serta stigma yang masih melekat terhadap TBC. Sebagian kontak serumah belum bersedia untuk melakukan pemeriksaan, terutama ketika tidak merasakan gejala.
Dalam konteks tersebut, pendekatan community organizing memungkinkan upaya pencegahan tetap dilakukan melalui akses Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi kontak serumah tanpa gejala. Melalui komunikasi yang dilakukan kader secara intensif, kontak serumah diberikan pemahaman bahwa risiko penularan di dalam rumah tetap ada meskipun belum muncul gejala. Oleh karena itu, TPT diposisikan sebagai pilihan perlindungan bagi diri sendiri dan anggota keluarga lainnya. Pendekatan ini berkontribusi pada meningkatnya penerimaan terhadap intervensi pencegahan.
Sejalan dengan hal tersebut, akses TPT bagi kontak serumah meningkat secara signifikan sejak Kuartal II, dengan capaian di atas 50%, dibandingkan dengan Kuartal I yang masih berada pada kisaran 8%–20%. Peningkatan ini juga tidak terlepas dari upaya motivasi yang dilakukan kader, yang dalam konteks program dipengaruhi oleh skema reward berbasis aktivitas investigasi kontak. Kader menerima reward ketika kontak serumah mengakses pemeriksaan, menerima TPT, atau ketika terdapat temuan kasus TBC. Sementara temuan kasus sangat bergantung pada hasil pemeriksaan klinis, capaian TPT menunjukkan respons yang lebih cepat terhadap upaya motivasi kader.
Peningkatan ini menunjukkan bahwa community organizing berperan penting dalam mendorong penerimaan masyarakat terhadap intervensi pencegahan, meskipun dampaknya terhadap peningkatan temuan kasus TBC aktif memerlukan waktu yang lebih panjang untuk terlihat secara signifikan.
5.3 Peran Monitoring Berjenjang
Monitoring berjenjang intensif berperan sebagai penguat utama yang mengintegrasikan mobilisasi dan community organizing dalam pelaksanaan investigasi kontak. Monitoring dilakukan secara berjenjang, mulai dari pemantauan harian oleh koordinator kader terhadap kerja kader di lapangan, dilanjutkan dengan pengawasan dan verifikasi oleh staf PMEL kabupaten/kota, hingga pemantauan di tingkat SR melalui kertas kerja investigasi kontak dan sistem pelaporan SITK.
Pendekatan monitoring ini memastikan bahwa mobilisasi tidak hanya menghasilkan capaian kuantitatif, tetapi juga menjaga kualitas pelaksanaan investigasi kontak. Monitoring berjenjang memungkinkan identifikasi hambatan lapangan secara lebih dini, penguatan kapasitas kader melalui umpan balik langsung, serta konsistensi antara aktivitas lapangan dan data yang tercatat dalam sistem. Dengan demikian, monitoring berjenjang intensif menjadi faktor kunci yang memungkinkan mobilisasi dan community organizing berjalan secara sinergis dan berkelanjutan.
Ringkasan Dampak
Secara keseluruhan, mobilisasi memberikan dampak yang relatif cepat terhadap peningkatan cakupan dan ritme kerja investigasi kontak. Sementara itu, community organizing menunjukkan potensi dampak yang lebih kuat dalam jangka panjang, khususnya pada aspek pencegahan dan penerimaan masyarakat terhadap layanan TBC. Kedua pendekatan ini menunjukkan hasil yang lebih optimal ketika diperkuat oleh monitoring berjenjang intensif, yang memastikan kesinambungan, kualitas, dan akuntabilitas pelaksanaan program di seluruh tingkatan.
6. Kesimpulan dan Pembelajaran
Pelaksanaan investigasi kontak dalam program eliminasi TBC tidak semata-mata berkaitan dengan penemuan kasus dan pencegahan penularan, tetapi juga berhadapan langsung dengan dinamika sosial dan budaya di tingkat keluarga dan komunitas. Investigasi kontak berlangsung di ruang privat rumah tangga, tempat stigma, rasa takut, makna privasi, serta upaya keluarga menjaga martabat dan kehormatan menjadi faktor yang sangat memengaruhi penerimaan terhadap intervensi kesehatan. Dalam konteks tersebut, pendekatan yang bersifat koersif tidak hanya tidak efektif, tetapi juga berisiko melemahkan kepercayaan masyarakat dalam jangka panjang.
Pembelajaran utama dari praktik ini menunjukkan bahwa keberhasilan investigasi kontak sangat ditentukan oleh strategi yang adaptif, memahami terhadap keterbatasan program, dan berakar pada konteks lokal. Program tidak harus menunggu kondisi ideal untuk dapat berjalan. Melalui pemetaan kader yang tepat, pembagian peran yang realistis, prioritisasi berbasis risiko, serta penguatan kapasitas kader yang kontekstual, investigasi kontak tetap dapat dijalankan secara konsisten dan memberikan dampak yang bermakna, baik dalam penemuan kasus maupun pencegahan melalui Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).
Pengalaman ini juga menegaskan pentingnya mengombinasikan mobilisasi, community organizing, dan monitoring berjenjang intensif sebagai satu kesatuan pendekatan. Mobilisasi berperan menjaga ritme dan cakupan kerja, community organizing membangun penerimaan dan kepercayaan masyarakat, sementara monitoring berjenjang memastikan kualitas pelaksanaan serta kesinambungan proses di setiap tingkatan. Ketiga pendekatan tersebut saling melengkapi dan tidak dapat berdiri sendiri.
Pada akhirnya, Broken Chains bukan hanya tentang memutus mata rantai penularan TBC, tetapi juga tentang membangun kembali kepercayaan, merawat nilai gotong royong, dan bekerja bersama—dengan sumber daya yang ada—untuk melindungi mereka yang paling dekat dengan kita. Praktik ini merupakan bagian dari proses pembelajaran program dalam berkontribusi pada eliminasi TBC, sekaligus upaya untuk menumbuhkan kembali kepercayaan masyarakat dan menghidupkan nilai gotong royong sebagai fondasi kerja bersama di tingkat komunitas.
